JOMBANG CULTURAL PROFILE
J
|
ombang
merupakan kota yang akan saya sebut ketika ditanya tempat lahir. Merupakan
kabupaten yang sangat nyaman dan asri. Kehidupan yang harmonis dan religius
terpancar dalam kehidupan bermasyarakatnya. Identitas sebagai kota santri dapat
diihat dari orientasi pendidikan yang berorientasi keislaman. Banyak sekolah
yang bernuansa pondok pesantren yang berdiri dan banyak mengundang orang
seluruh Indonesia untuk mengenyam pendidikan di Kota Santri ini. Berdirinya
beberapa pesantren di kota ini menjadikan budayanya lebih ke arah islami.
Kegiatan pada hari-hari khusus selalu mengadakan “Kenduren” yang dimaknai
sebagai wadah berdoa bersama dan ajang kumpul warga setempat. Kenduren ini
adalah merupakan aviliasi dan percampuran antara kebudayaan kejawen dan
keislaman.
Jombang memiliki banyak hal yang menarik. Ringin Contong adalah simbol Kota Jombang. Pohon ini melambangkan kehidupan yang kokoh, kekayaan yang rimbun, kesuksesan yang tinggi, dan akar gantung yang melambangkan selalu memingat untuk selalu merendah. Kota dengan jejak seribu kakai para santri ini merupakan kota yang aman dan nyaman untuk dikunjungi. Kota Jombang tidak kalah dengan kota lainnya mengenai makanan khas. Makanan khas enggak luput dari incaran pengunjung. Makanan khas Kota Jombang adalah Jenang kelapa muda yang memiliki rasa manis dan gurih menjadi pilihan yang tepat bagi para pengunjung. Gudapan lezat banyak ditemukan yaitu Lontong Kikil yang merupakan gudapan lezat khas Kota Jombang. Perpaduan lembutnya lontong, kenyalnya kikil, dan bumbu rendang khas Jombang membuat kesan yang baik pada pengunjung Kota Jombang.
Kesenian
budaya Khas Jombang adalah Ludruk. Ludruk merupakan salah satu kebudayaan
geguyon yang didalamnya terdapat alur cerita. Cerita yang pernah terkenal
ditahun 1990an adalah Kebo Kicak Karang Kejambon. Merupakan cerita sosok
manusia jahat yang terkadang dapat berubah menjadi sesosok kerbau yang berwarna
kehijauan. Cerita Kebo Kicak Karang Kejambon merupakan cerita yang sarat akan
makna sosial. Makna tersebut adalah menjadi manusia yang apa adanya dan tidak
bermuka dua di depan orang lain. Kebudayaan ini masih di lestarikan dan harapan
saya tidak akan luntur di makan zama karena merupakan aset Kota Jombang yang
berharga. (Hnd)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar